Tingkatkan Ilmu, Griya Bambu Tukar-Menukar Buku Dengan Tamu
TINGKATKAN ILMU, GRIYA BAMBU
TUKAR-MENUKAR BUKU DENGAN TAMU
Bogor, DAAR EL-JUMAAN [2/2]
Hujan rintik-rintik membasahi pepohonan
jabon. Pertemuan air hujan dengan dedaunannya menimbulkan bunyi musik alami. Suara
binatang kecil bersayap mulai menyemarakkan suasana menjelang sore itu. Sebuah
mobil berwarna putih susu bernopol "B" (Jakarta) tengah parkir di
depan pintu gerbang timur Griya Bambu "DAAR EL-JUMAAN" Kemang-Bogor. Beberapa
saat kemudian penumpangnya turun sambil mengembangkan payung menuju gerbang. Terdengar
bunyi gesekan antara besi dan bebatuan saat pintu besi itu dibuka ke arah
dalam.
Rakeeman R.A.M. Jumaan, sang
pemilik Griya Bambu mempersilakan para tamu itu memasuki halaman. Ada tiga
orang yang datang berkunjung. Seorang ibu-ibu dengan baju khas perempuan timur
tengah, diiringi gadis remaja yang berselempangkan kerudung dan celana panjang 'jeans'
dan seorang laki-laki berperawakan gempal. Ketiganya kemudian duduk di kursi
kayu jati yang ada di bawah payung ilalang, di depan Griya Bambu.
Emilia Renita Az sedang
berbincang dengan Mln. Dildaar Ahmad Dartono di bawah 'Payung Ilalang' (fotografer:
Rakeeman R.A.M. Jumaan).
Ibu-ibu itu tidak lain adalah
Emilia Renita Az alias Zanuba Karbalai. Mantan anggota Komnas HAM yang juga
istri tokoh Ikatan Jama'ah Ahlu Bayt Indonesia (IJABI) itu sengaja berkunjung. Setelah
beberapa kali merencanakan kunjungan ke Griya Bambu "DAAR EL-JUMAAN"
Kemang, Bogor, akhirnya pada Ahad (2/2) sore niat itu baru terlaksana. Emilia
atau di kalangan Syi'ah biasa disapa 'Ibu Nike' didampingi oleh putri
sulungnya, Nur. Sedangkan laki-laki itu adalah pengemudinya yang juga anggota
Syi'ah Depok. Namanya Budiman, lengkapnya Marhen Budiman.
Istri Kang Jalal yang ketika
sebagai anggota Komnas HAM ini sering mengunjungi kantong-kantong Ahmadiyah di
Jawa Barat dan Sumatra guna menyelesaikan permasalahan Jemaat itu kemudian
menyerahkan buku-buku terbitan Syi'ah. Di antaranya buku yang dikarang oleh dia
sendiri, yaitu "40 Masalah Syiah" dengan pengantar dari Dr.
Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. Buku lainnya adalah mengenai "Ziyarat
'Asyura" (Arab), "Al-Mushthafa" (Biografi), "Hadits-hadits
Ahlu Bayt Nabi" dan sebuah buku apologetik-dialektik, "Mengapa Syi'ah
Dikatakan Sesat?"
Buku-buku terbitan Syi'ah pemberian
Ibu Nike menjadi koleksi baru 'Syi'ah Corner' yang ada di Perpustakaan
(Maktabah) Griya Bambu "DAAR EL-JUMAAN" Bogor.
Belum berapa lama berbincang,
tampak Mln. Dildaar Ahmad Dartono memasuki gerbang selatan Griya Bambu. Setelah
uluk salam, Redaktur Bulletin "Khotbah Jumat" Jemaat Ahmadiyah
Indonesia ini langsung duduk di sebelah Budiman. Sebelumnya, memang telah ada
kontak di antara mereka. Status di BlackBerry Messenger (BBM) Ibu Nike yang menyatakan
akan berkunjung ke Griya Bambu, ternyata terbaca oleh Mln. Dildaar. Perbincangan
pun tambah semakin mengasyikkan. Suguhan minuman dan snack instan juga terlihat
melengkapi obrolan.
"Aaajiiibbb!! Lima jam
lebih kami dari Jakarta kemari," kata Ibu Nike di sela-sela obrolannya.
"Hanya niat yang kuat untuk berkunjung kemari yang menyebabkan kami bisa
sampai disini. Bahkan, Mas Mubarik tadi menertawakan kami, koq bisa-bisanya
sampai lima jam dari Kemang (Jakarta) ke Kemang (Bogor) ini. Pasalnya, tadi
kami tersesat ke Jalan Raya Jakarta arah Cibinong yang mendekati Depok.
Sebelumnya saya sudah katakan kepada Maulana Rakeeman, bahwa saya ini sudah langganan
nyasar. Jadi, sekarangpun tidak heran bila saya nyasar lagi," kata istri
Kang Jalal (Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc.) ini sambil tersenyum, seolah membenarkan
keterlambatannya.
Marhen Budiman sedang asik
berbincang dengan Mln. Dildaar Ahmad Dartono. Redaktur "Khotbah
Jumat" Jemaat Ahmadiyah Indonesia ini didampingi putra keduanya, Reihan.
Lain lagi dengan Marhen
Budiman. Meski ia berasal dari Depok dan mengetahui rute jalannya, namun dia kalah
suara dengan dua perempuan yang dipandunya. "Saya taqlid saja kepada ibu.
Ketika ibu bilang lurus saja dari Baranangsiang ke arah Parung, maka saya ikuti
saja. Padahal saya sendiri tahu, bahwa arah ke Parung itu adalah belok kiri
setelah Jambu Dua," kata pria yang sebelum bergabung dengan Syi'ah
merupakan seorang abangan. Rekan Mubarik Mahmud Ahmad alias Pak Ekky (Sekr.
Isyaat PB Jemaat Ahmadiyah) yang sewaktu masih sama-sama di Cinere ini
melanjutkan, "Ternyata benar saja, kami nyasar hingga ke arah Pasar Rebo.
Maka saya tanya, apakah pulang saja kembali ke rumah lagi ataukah tetap ke
Griya Bambu."
Karena lama di perjalanan dan
belum sempat santap siang, akhirnya rombongan tamu ini dipersilakan untuk makan
siang terlebih dahulu. Seperti biasanya bila akan ada tamu, tuan rumah telah
menyediakan beberapa porsi nasi box dari salah satu kapau masakan Padang di sekitar
Jampang. Griya Bambu sudah lama berlangganan 'delivery order' (DO) disana,
tinggal telpon maka tidak lama kemudian pesanan akan diantarkan. "Ini
untuk memudahkan keperluan konsumsi bagi tetamu yang berkunjung kemari, bahkan
meskipun malam hari," kata pemilik Griya Bambu yang telah sembilan tahun
mengampu mata kuliah Muwazinah Mazahib (The Comparative Study of Religions) di
Jamiah Ahmadiyah Indonesia (JAMAI) Bogor ini.
Saat sedang santap inilah dua
orang pengurus Lajnah Imaillah (LI) Kemang datang bergabung. Mereka adalah
Sekretaris Tarbiyat (Pendidikan) dan Sekretaris Shana'at wa Dastkari (Industri
dan Kerajinan Tangan). Sebelumnya pemilik Griya Bambu "DAAR
EL-JUMAAN" Bogor memang sudah berkoordinasi dan melaporkan rencana
kunjungan rekan-rekan dari Syi'ah tersebut. Di antaranya kepada Ketua LI Jemaat
Kemang agar bisa ikut mendampingi karena tamunya adalah perempuan. Kini, di
bawah payung ilalang ada enam orang yang sedang berbincang.
Obrolan di bawah payung
ilalang itu terputus sejenak dan ibu-ibu itu bergegas ke dalam Perpustakaan
(Maktabah) yang ada di lantai dasar Griya Bambu ketika Muslim TV Ahmadiyya
(MTA) International menayangkan pidato Muhammad Guntur Romli. Salah satu
cendekiawan muda NU yang dikenal dekat dengan Jemaat Ahmadiyah dan Syi'ah juga
komunitas tertindas lainnya itu sedang menyampaikan kiat-kiat menjalin
komunikasi yang efektif. Acaranya sendiri adalah Ijtima Nasional Waqf-e-Nou
2011 yang diselenggarakan di Markaz.
Kedua pengurus LI Kemang
sedang menemani Ibu Emilia Renita Az (burkah hitam) menyimak tayangan MTA
International.
Perbincangan selanjutnya di
dalam Perpustakaan tidak diketahui secara pasti. Namun, menurut informasi dari
pengurus LI yang mendampingi, Ibu Nike menceritakan upayanya sewaktu menjadi
anggota Komnas HAM menyelesaikan permasalahan yang menimpa Jemaat Ahmadiyah di
daerah-daerah. Penulis buku "Apakah MUI Sesat?" yang sebentar lagi di-launching
ini telah mengunjungi Jemaat-jemaat di Cianjur, Tasikmalaya, Wanasigra, Cirebon
dan Bangka Belitung. Di tempat-tempat tersebut, selain interviu dengan
pengurus, mubalig atau anggota, dia juga mendatangi pihak-pihak yang antipati
dan melakukan aksi anarkisme terhadap properti Jemaat. Dalam kesempatan itu,
tidak jarang ibu lima anak ini menginap di rumah keluarga Jemaat.
Perbincangan itupun lagi-lagi
terpotong karena ada tamu lain yang datang. Mln. Murtiyono Yusuf Ismail
didampingi istri dan kedua putranya ikut bergabung. Setelah diperkenalkan, bahwa
yang datang ini adalah Mubalig Wilayah Bekasi pengganti Mln. Rahmat
Rahmadijaya, akhirnya mereka berdua agak lama berbincang. Hingga akhirnya Mln. Murtiyono
pamit pulang. Saat itulah datang lagi salah seorang pengurus LI Kemang lainnya.
Dia adalah Sekretaris Khas. Sebenarnya ada empat pengurus LI Kemang lainnya
yang juga akan ikut bergabung, namun karena tidak melihat adanya tamu perempuan
diluar, maka jadi urung.
Mubalig Wilayah Bekasi tampak
berbincang dengan Ibu Emilia Renita Az di depan pintu Perpustakaan (Maktabah)
Griya Bambu. Ibu Nike sudah pernah berkunjung ke Masjid "Al-Misbah"
Jatibening, Bekasi.
Menjelang pukul enam petang,
rombongan pun berpamitan pulang. Pemilik Griya Bambu tidak lupa menghadiahkan
satu set buku-buku kepada Ibu Emilia Renita Az. Judul buku-buku tersebut adalah
"Wahyu, Rasionalitas, Pengetahuan dan Kebenaran" karya Hadhrat Mirza
Tahir Ahmad (Khalifatul Masih IV rha), buku "Krisis Dunia dan Jalan Menuju
Perdamaian" oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (Khalifatul Masih V atba) dan
buku "Dzikir Ilahi" tulisan Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (Khalifatul
Masih II ra). Dengan gembira Ibu Emilia menerimanya. "Kalau sedang lewat
ke Kemang (Jakarta), silakan singgah ke rumah. Disana pun kami ada perpustakaan
keluarga," ujarnya.
Pemilik Griya Bambu dan juga para
pengurus LI kemudian mengantar tamu-tamu hingga ke gerbang. Setelah mereka masuk
ke dalam mobil, maka kendaraan berplat nomor unik itupun mengambil parkir di
lahan sebelah lalu melaju meninggalkan Griya
Bambu. Dikatakan unik karena tiga angka belakang adalah nama dari tokoh
pada masa Rasulullah saw, yaitu Hadhrat Ali. Lengkapnya, mobil itu bernomor B
xxx ALI dan singkatan 'alaihi al-salam menggunakan huruf Arab, setelahnya. Ini
mengingatkan juga dengan nomor unik dari mobil yang dimiliki salah satu ormas
yang kerap melakukan aksi-aksi anarkis, B 1 FPI.
Suasana Griya Bambu yang tadinya
ramai kini kembali senyap. Cahaya matahari mulai memudar, digantikan suasana
yang mulai gelap. Beberapa mahasiswa yang sejak sebelum Ashar ikut mempersiapkan
akomodasi acara ikut pamit kembali ke Asrama. Mereka adalah anggota Forum
Kajian Ilmu Perbandingan Agama (FKIPA) "AL-MU'AZZIY" Jamiah Ahmadiyah
Indonesia (JAMAI) Bogor. Kehadiran mereka selain untuk menyambut tamu, juga bertujuan
meliput dan mengabadikan momen selama acara berlangsung.
Mahasiswa yang tergabung
dalam Forum Kajian Ilmu Perandingan Agama (FKIPA) "Al-Mu'azziy"
tampak ngariung di bawah Payung Ilalang ketika menanti kedatangan tetamu.
Maka tidak mengherankan
apabila sebelum kedatangan para pengurus LI Kemang sedikitnya ada delapan orang
mahasiswa Jamiah mendampingi disini. Mereka dikoordinir langsung oleh Ketua
FKIPA dan datang atas permintaan pembinanya yang juga pemilik Griya Bambu.
Namun, karena bakda Ashar mereka ada kegiatan lain, sebagian dari mereka
bergegas meninggalkan lokasi. Yang tinggal hanyalah mahasiswa yang bertugas sebagai
tim dokumentasi. (RAM)
assalamu 'alaikum.
BalasHapusMenurut sy, artikel berita sudah bagus dari segi jurnalisme.