GRIYA BAMBU “DAAR EL-JUMAAN”: PUSAT KEGIATAN LINTAS IMAN DAN TAMAN BACAAN
GRIYA BAMBU “DAAR EL-JUMAAN”:
PUSAT KEGIATAN LINTAS IMAN
DAN TAMAN BACAAN
Oleh:
Rakeeman R.A.M. Jumaan
Pemilik/Pengelola Taman
Bacaan “DAAR EL-JUMAAN” (Rumah Mutiara) Kemang-Bogor
Pengajar The Comparative
Study of Religions JAMAI Kemang-Bogor
“Membaca buku itu ibarat
senikmat minum susu.”
(Dwi Astutik, Ketua Forum
Taman Bacaan Masyarakat [FTBM] se-Jawa Timur)
MENGENAL TAMAN BACAAN
MASYARAKAT
Dalam proses belajar mengajar
di semua jenjang pendidikan baik TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi maupun para
peneliti tidak lepas dari perpustakaan maupun taman bacaan masyarakat. Melalui taman
bacaan masyarakat mereka akan memperoleh informasi tentang bermacam-macam hal
karena pada hakekatnya suatu taman bacaan masyarakat adalah tempat berkumpulnya
pengetahuan dari masa ke masa.
Taman bacaan masyarakat (TBM)
adalah untuk melayani kepentingan penduduk yang tinggal di sekitarnya. Mereka
terdiri atas semua lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial,
ekonomi, budaya, agama, adat istiadat, tingkat pendidikan, umur dan lain
sebagainya.
Menurut Sutarno NS (2006:19),
Taman Bacaan Masyarakat mempunyai tanggung jawab, wewenang, dan hak masyarakat
setempat dalam membangunnya, mengelola dan mengembangkannya. Dalam hal ini
perlu dikembangkan rasa untuk ikut memiliki (sense of belonging), ikut
bertanggung jawab (sense of responsibility) dan ikut memelihara (melu
hangrukebi).
Masyarakat yang menaruh
perhatian dan kepedulian terhadap taman bacaan adalah mereka yang menyadari dan
menghayati bahwa taman bacaan bukan saja penting, tapi sangat diperlukan oleh
masyarakat. Kelompok masyarakat tersebut perlu terus dibina dan dikembangkan
kearah terbentuknya masyarakat informasi atau masyarakat yang cerdas.
Tujuan Taman Bacaan
Masyarakat
Dalam pengelompokan perpustakaan,
taman bacaan masyarakat tergolong dalam Perpustakaan Umun. Perpustakaan Umum (public
library) menurut Reitz (2004) adalah ”A library or library system that provides
unrestricted access and services free of charges to all the resident of a given
community, district, or geographic region, supported wholly or in part by
publics funds”.
Dalam pengertian sederhana
defenisi di atas menyatakan bahwa perpustakaan umum adalah sebuah perpustakaan
atau sistem perpustakaan yang menyediakan akses yang tidak terbatas kepada
sumberdaya perpustakaan dan layanan gratis kepada warga masyarakat di daerah
atau wilayah tertentu, yang didukung penuh atau sebahagian dari dana masyarakat
(pajak). Menyimak definisi di atas, perpustakaan umum memiliki tugas yang
sangat luas dalam hal penyedia akses informasi kepada masyarakat.
Mengingat pentingnya
perpustakaan umum sebagai perpustakaan masyarakat, sehingga UNESCO menyatakan
perpustakaan umum sebagai media kehidupan bangsa. Pada tahun 1972 UNESCO
mengeluarkan Manifesto perpustakaan umum yang menyatakan bahwa perpustakaan
umum harus tebuka bagi semua orang tanpa membeda-bedakan warna kulit, jenis
kelamin, usia, kepercayaan, ras.
Lebih rinci tujuan
perpustakaan umum dalam manifesto UNESCO (Sulistyo-Basuki, 1993) adalah:
Memberikan kesempatan bagi
umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke
arah kehidupan yang lebih baik.
Menyediakan sumber informasi
yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama mengenai topik yang
berguna bagi mereka yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.
Membantu warga untuk
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan
bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat
dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka.
Bertindak selaku agent of
culture, artinya perpustakaan umum pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat
sekitarnya.
Fungsi dan Tugas Taman Bacaan
Masyarakat
Sejak awal sebuah
perpustakaan didirikan, apa pun jenisnya telah disebutkan bahwa perpustakaan atau
taman bacaan masyarakat mempunyai kegiatan utama mengumpulkan semua sumber
informasi dalam berbagi bentuk yakni tertulis (printed matters), terekam (recorded
matters) atau dalam bentuk lain.
Kemudian semua informasi
tersebut diproses, dikemas, dan disusun untuk disajikan kepada masyarakat yang
diharapkan menjadi target dan sasaran akan menggunakan taman bacaan tersebut.
Oleh karena itu penyelenggaraan taman bacaan tentu mempunyai maksud dan tujuan
tertentu yang ingin dicapai. Untuk mewujudkan kandungan maksud dan mencapai
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, diperlukan langkah-langkah strategis,
kebijakan yang aplikatif dan terencana secara konseptual serta tindakan yang
kongkrit.
Menurut Sutarno NS (2006:33),
suatu Taman Bacaan Masyarakat dibentuk atau dibangun dengan maksud:
Menjadi tempat mengumpulkan
atau menghimpun informasi, dalam arti aktif, taman bacaan masyarakat tersebut
mempunyai kegiatan yang terus-menerus untuk menghimpun sebanyak mungkin sumber
informasi untuk dikoleksi.
Sebagai tempat mengolah atau
memproses semua bahan pustaka dengan metode atau sistem tertentu seperti
registrasi, klasifikasi, katalogisasi serta kelengkapan lainnya, baik secara
manual maupuan menggunakan sarana teknologi informasi, pembuatan perlengkapan
lain agar semua koleksi mudah digunakan.
Menjadi tempat memelihara dan
menyimpan. Artinya ada kegiatan untuk mengatur, menyusun, menata, memelihara,
merawat, agar koleksi rapi, bersih, awet, utuh, lengkap, mudah diakses, tidah
mudah rusak, hilang, dan berkurang.
Sebagai salah satu pusat
informasi, sumber belajar, penelitian, preservasi serta kegiatan ilmiah lainya.
Memberikan layanan kepada pemakai, seperti membaca, meminjam, meneliti, dengan
cara cepat, tepat, mudah dan murah.
Membangun tempat informasi
yang lengkap dan ”up to date” bagi pengembangan pengetahuan (knowledge),
keterampilan (skill), dan perilaku/sikap (attitude).
Merupakan agen perubahan dan
agen kebudayaan dari masa lalu, sekarang dan masa depan.
Dalam konsep yang lebih
hakiki, eksistensi dan kemajuan taman bacaan masyarakat menjadi kebanggaan, dan
simbol peradaban kehidupan umat manusia.
MENGENAL GRIYA BAMBU/TAMAN
BACAAN “DAAR EL-JUMAAN”
Griya Bambu/Taman Bacaan “DAAR
EL-JUMAAN” berdiri di atas tanah seluas 203 meter persegi yang kemudian disebut
dan termasuk Blok Khadijah No. 7 dan dikenal sebagai Kebun “Gulshan-e-Yafa”. Bagian
sebelah barat tanah ini berbatasan dengan tanah milik Bapak Irfan Syafi’
Batuah, sebelah timur berbatasan dengan jalan Blok dan tanah milik Bpk. Abdul
Malik Arifin, sebelah utara berbatasan dengan tanah milik Ibu Busyrah Hamidah
Barus dan sebelah selatan berbatasan dengan jalan Blok dan tanah milik Bpk.
Hasan Basri Al-Ayyubi.
Griya Bambu ini terdiri dari
dua lantai dengan ketinggian seluruhnya mencapai lima meter. Lantai dasar
diperuntukkan untuk Perpustakaan Taman Bacaan, sedangkan lantai atas untuk
perpustakaan pribadi, ruang tamu yang bersifat pribadi, rapat/pertemuan dan
istirahat. Tangga menuju lantai atas terdapat di bagian sebelah kanan dinding.
Beberapa sarana-prasarana
yang terdapat di dalam Kebun “Gulshan-e-Yafa” di antaranya adalah:
Perpustakaan Taman Bacaan
Perpustakaan Taman Bacaan “DAAR
EL-JUMAAN” terletak di lantai dasar Griya Bambu. Luasnya sekitar 16 meter
persegi. Di dalamnya terdapat tiga rak buku terbuat dari bambu hitam. Lantai
dasarnya menggunakan paving dan dilapisi karpet plastik.
Kapasitas daya tampung di
dalam Perpustakaan ini bisa memuat 10-15 pembaca. Selain itu juga disediakan
lokasi baca out-door di halaman depan berupa gazebo dan payung ilalang. Untuk
gazebo sendiri dapat menampung sekitar 8-10 pembaca, sedangkan di bawah payung
ilalang dapat memuat sekitar 6-8 pembaca. Secara keseluruhan, Taman Bacaan ini
akan mampu menampung sekitar 30-50 pembaca dalam satu waktu.
Saat ini Perpustakaan Taman
Bacaan “DAAR EL-JUMAAN” baru memiliki beberapa ribu koleksi bahan bacaan,
terdiri dari bacaan umum dan keagamaan. Buku-buku cerita bergambar dan
majalah/bulletin untuk anak-anak termasuk yang mendominasi koleksinya. Bahan
bacaan tersebut berasal dari pengadaan pribadi maupun dari donatur yang berasal
dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan daerah lainnya.
Perpustakaan Taman Bacaan ini
melayani peminjaman terbatas dan baca di tempat. Peminjaman terbatas maksudnya
adalah bahan bacaan yang boleh dibawa pulang jumlahnya lebih dari satu dan
pengembaliannya maksimal tiga hari.
Kebun Jabon
Taman Bacaan “DAAR EL-JUMAAN”
juga memiliki percontohan Kebun Jabon. Saat ini jumlahnya ada 33 batang dengan
usia sekitar tujuh bulanan. Lokasi kebun ini terletak di bagian sebelah timur
Taman Bacaan, dikelilingi pagar luar dan pagar dalam.
Nama Latin Jabon adalah Anthocephalus
cadamba (Miq), yang termasuk ke dalam Famili Rubiaceae. Pohon Jabon ini disebut
dengan berbagai nama: aparabire, atapang, bance pute, canon, empaak, empayang, galupai,
galupai bengkal, gempol, hanja, harapean, kekiri, jabon, jabun, johan, kalamlayan,
kawak, kelampaian, kelapan, kokabu, dan sebagainya.
Sedangkan nama umum yang
dipergunakan di berbagai belahan dunia adalah gao (Vietnam), kadam (Burma, India,
Pakistan, Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman),
laran (Sabah), kelempayan (Malaysia Barat), selimpoh, limpoh, entipong,
sempayan (Serawak) dan sebagainya. Penyebaranya sendiri di Indonesia terdapat
di seluruh Sumatra (kecuali Riau), seluruh Jawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Timur, seluruh Sulawesi, NTT, Maluku dan Irian Jaya.
Kayu Jabon dapat digunakan
untuk korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp dan
konstruksi ringan.
Kandang Unggas (Ayam dan
Burung)
Kandang unggas (ayam)
terletak di tengah-tengah kebun Jabon. Sedangkan kandang burung berada di
bagian kanan depan pintu Griya Bambu. Untuk saat ini, ayam yang dipelihara
masih baru satu ekor. Ke depannya, mudah-mudahan akan bertambah menyesuaikan
lahannya.
Untuk burung, saat ini Taman
Bacaan “DAAR EL-JUMAAN” baru menyediakan dua ekor, terdiri dari burung kolibri
dan burung “kacamata”. Burung kolibri alias hummingbird (Colibri thalassinus)
merupakan burung terkecil di dunia yang memiliki kecepatan terbang yang
tangguh. Sedangkan burung “kacamata” merupakan burung pekicau yang relatif
digemari para pecinta kicau burung.
Di dunia ini terdapat
bermacam-macam jenis burung kolibri. Di antaranya ada kolibri raja, kolibri
ninja dan kolibri madu. Berdasarkan persebarannya di Indonesia, juga dapat
dibedakan menjadi burung kolibri penghisap madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodei),
kolibri penghisap madu Sumba (Cinnyris buettikoferi), pijantung kepala putih (Arachnothera
juliae) dan pijantung telinga kuning (Arachnothera chrysogenys).
Kolam Ikan Lele Putih dan Koi
Ikan lele putih, lele hitam
dan koi berada di dua kolam yang terpisah. Untuk lele putih alias albino (Clarias
batracus) dan lele hitam (Clarias gariepinus) berada di kolam depan pintu Griya
Bambu sebelah kanan. Letaknya persis berada di antara Griya Bambu dan Gazebo.
Di dalam kolam berukuran panjang 130 cm, lebar 80 cm dan kedalaman 80 cm
tersebut terdapat 10 ekor ikan lele aneka ukuran. Di antaranya, lima ekor lele
putih dan lima ekor lele hitam. Lele putih terbesar berukuran sebesar betis
orang dewasa.
Sedangkan untuk ikan koi (Carrasius
auratus) berada di kolam hias yang dilengkapi dengan air mancur buatan/listrik.
Letaknya persis di bagian ujung halaman yang diberi batu split dan tanaman hias
airis (Neomarica longifolia).
Sumur, Torn dan Gentong Air
Untuk keperluan tertentu,
maka Taman Bacaan juga menyediakan sumur lengkap dengan jet-pump, tower, torn
dan gentongnya. Keperluan dimaksud di antaranya berupa kegiatan yang
mengharuskan cuci tangan dan keperluan lainnya. Dengan adanya fasilitas ini,
kegiatan ‘ngaliwet’ dan sejenisnya bisa dilaksanakan disini.
STRATEGI DAN METODE
MENINGKATKAN MINAT BACA
Upaya untuk meningkatkan
minat baca dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sebab minat baca tidak secara
tiba-tiba dapat terwujud melainkan harus melalui usaha maksimal yang
berkesinambungan.
Beberapa strategi dan metode
yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca adalah:
Membiasakan Bercerita dalam Keluarga
Lingkungan terkecil adalah
keluarga. Dari keluarga hendaknya mulai dipupuk minat baca anak-anak. Dalam
keluarga, setiap orang tua diharapkan dapat menanamkan minat baca sejak dini
melalui cara-cara yang dianggap sesuai. Misalnya, dengan membacakan buku cerita
setiap menjelang tidur atau bila ada kesempatan lainnya.
Cara lainnya adalah dengan
mengajak anak-anak melakukan kegiatan “Wisata Baca” yaitu orang tua membuat
program sebulan sekali atau seminggu sekali mengunjungi dan membeli buku-buku
di toko buku terdekat.
Mengundang Anak-anak TK/PAUD
Kegiatan yang digemari oleh
anak-anak adalah mewarnai, menggambar dan pemutaran film/VCD. Oleh sebab itu,
Taman Bacaan harus mengundang anak-anak TK/PAUD untuk hadir ke TBM. Anak-anak
dapat mengenal pengunjung dan petugas TBM sehingga mereka tidak canggung lagi
untuk datang kesana.
Selain anak-anak TK/PAUD,
pelajar dan mahasiswa juga menjadi subyek yang sangat penting alasan
didirikannya Taman Bacaan. Sehingga keberadaan mereka menjadi pendorong dan
salah satu alasan pendiriannya.
Para pelajar/mahasiswa ini
selain dapat memenuhi keperluan literasi/bahan bacaan dirinya sendiri, juga
dapat menjadi pembimbing bagi anak-anak kecil. Bimbingan tersebut dapat berupa
bimbingan belajar (bimbel) atau panitia perlombaan.
Lomba Membaca dan Lomba
lainnya
Taman Bacaan dapat
menyelenggarakan lomba bercerita, baik bagi orang tua maupun untuk anak-anak
sehingga mereka akan semakin terpacu untuk banyak membaca. Sebab setiap orang
memiliki selera yang berbeda. Diharapkan dengan kegiatan ini akan menarik
mereka untuk mencari naskah yang benar-benar sesuai dengan pilihannya.
Fasilitas dan Sarana
Penunjang Lainnya
Dengan disediakannya sarana
penunjang, diharapkan juga akhirnya memancing minat baca anak-anak dan orang
dewasa untuk mengenal lebih dalam sarana tersebut. Sarana ini bisa berupa percontohan
perkebunan, perikanan, peternakan dan lain-lain. Bahkan, keberadaan arsitektur
dan tata ruang Taman Bacaan itu sendiri dapat menjadi pendorong untuk
mempelajarinya.
Selain itu juga telah
dilengkapi dengan parabola, LED TV, DVD Player dan sarana-prasarana lainnya
yang akan memudahkan kegiatan presentasi dan pertemuan lainnya. Tempat
penyimpanan barang-barang juga bisa disatukan dalam locker sesuai
klasifikasinya.
Dalam hal disediakannya lahan
kebun percontohan, semisal kebun jabon, ini akan dapat menarik minat baca bagi
yang ingin mengetahui lebih mendalam. Begitu juga yang tertarik dengan
pembudidayaan lele putih, mereka akan mencari dan membaca referensinya. Bagi
yang hobi dengan pemeliharaan unggas pun akan melakukan hal yang sama.
KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas,
dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menumbuhkan minat baca dan gemar datang ke
taman bacaan dapat dilakukan dengan beberapa kegiatan:
Pemasyarakatan aktifitas
minat baca untuk mendorong terciptanya masyarakat yang memiliki kemampuan
literasi tinggi dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan;
Promosi taman bacaan untuk
lebih mengenalkan ke masyarakat melalui beberapa media, baik cetak, elektronik,
internet dan pameran;
Perlu melibatkan semua pihak
baik itu institusi pendidikan, masyarakat umum dan tentunya taman bacaan
sebagai ujung tombaknya;
---o0o---
REFERENSI:
Joan M. Reitz, Dictionary for
Library and Information, Westport, TC, 2004;
Rakeeman R.A.M. Jumaan, Administrasi
Taman Bacaan “DAAR EL-JUMAAN” Bogor, Klipping Pribadi, 2012, tt;
Sulistyo-Basuki, Pengantar
Ilmu Perpustakaan, UNDIP, 1993;
Sutarno N.S., Manajemen
Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Penerbit Sagung Seto, 2006;
Wikipedia bahasa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar