Kebahagiaan Membawa Nikmat
Cerita Pribadi : Kebahagiaan Membawa Nikmat
Cerita ini mengisahkan ketika saya mengganti alamat rumah saya menjadi warga Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah pada Tahun 2018.
Soetta 2/10, Salah satu transportasi yang belum saya coba adalah pesawat terbang, banyak teman yang pernah mencoba pesawat dan terdengar sangat indah dan asyik tentunya, namun pada hari itu tiba waktunya saya mencoba pesawat disebabkan saya akan tinggal di salah satu kota yang bernama Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Setelah sholat subuh kami bertiga (saya, Ramdan dan Anwar) di antar oleh saudara kita bernama Bapak Erwin yang ada di Parung, dengan mengendarai mobil saat gelap menjelang pagi, ditemani dengan obrolan ringan namun sangat serius karena ini merupakan kali pertama kita berangkat bukan di satu tujuan yang sama melainkan di tujuannya masing-masing dengan lokasi terminal bandara yang berbeda-beda, tentu hal ini membuat saya takut dan gerogi karena belum pernah mencoba pesawat terbang, dengan obrolan panjang dan penuh dengan nasehat tibalah waktu yang kita nantikan yaitu sampai di bandara, awalnya saya mengira bahwa bandara itu kecil tapi sesampainya di sana ternyata terminal Soekarno Hatta itu besar sekali mengingat ini adalah terminal Internasional.
Bapak Erwin mengeluarkan tas dan koper kami satu persatu dan dengan ucapan selamat dan sampai tujuan dengan selamat kami agak berkaca-kaca karena beliau meninggalkan kami untuk menjemput yang lainnya. Terucap dalam hati terima kasih banyak semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada bapak sekeluarga, lalu kami beranjak ke tempat terminal masing-masing dengan perasaan yang tidak menentu karena jarang di tinggal oleh teman jika akan jalan-jalan jauh. Saat masuk ke pengecekan saya bingung di tanya oleh pegawai maskapai, “kopernya mau di masukan ke kabin atau ke bagasi?” setau saya jika di masukan ke kabin berarti di bawa ke atas dan tidak akan rusak mengingat koper banyak yang rusak jika di bawa ke bagasi oleh karena itu semua bawaan saya di masukan ke kabin semua dan Alhamdulillah muat, jadi sebelum keberangkatan saya selalu menenteng barang bawaan yang cukup banyak, tapi insyaallah aman.
Ketika duduk selalu ada pemberitahuan kepada para penumpang yang akan berangkat dan saya selalu menanyakan apakah itu perjalanan saya atau bukan, karena saya tahu bahwa jika telat dan terlambat maka saya tidak akan bisa berangkat ke tempat yang saya tuju, jadi saya tidak mau meninggalkan momen ini dengan selalu bertanya kepada security di sana, tibalah waktu saya berangkat dan perasaan sangat bahagia namun ternyata saya transit di Bandara Surabaya untuk lanjut ke Pangkalan Bun, dalam hati bertanya mengapa harus saya saja yang transit sedangkan yang lain tidak, saya gerogi dan agak takut dengan penerbangan yang harus di ganti-gantian karena nunggu lagi dan lama di lokasi bandara.
Setibanyak di bandara Surabaya, saya lalu bergegas ke kursi penumpang karena supaya menghemat waktu tunggu dan tidak terlewatkan penerbangan selanjutnya, di dalam pesawat yang sedang take off, air mata saya tumpah bukan berkaca-kaca lagi, karena di dalam hati, apakah saya sanggup menjalankan ini semua? apakah saya adalah orang yang dapat di percaya? apakah saya adalah orang pilihan yang di tempatkan di sana? Apakah saya mampu dan akan baik dalam semuanya? Dll. Dengan nikmat yang Hz Masih Mau'ud as berikan ini merupakan salah satu nikmat yang telah di berikan kepada saya khususnya. Alhamdulillah Ya Allah....
Orang di sebelah heran dengan kondisi saya yang sedang menangis, namun tidak juga dia bertanya jadi aman dan tidak malu juga kalau di tanya apa-apa, karena memang ini adalah perjalanan pertama saya ke Pangakalan Bun dan bertempat tinggal di sana. Tidak sebentar jauh dari orang tua saudara dan yang lainnya tapi ini adalah perjalanan terbaik yang pernah saya alami dalam hidup ini.
Pesawat pun landing dengan sempurna dan saya berucap Alhamdulillah sudah sampai ternyata, kaki pun dengan lelah berjalan dan ketika mata pun melihat kondisi Bandara Pangkalan Bun, saya melihat bahwa Bandara ini cukup alami dan masih asri, udara sangat segar dan sambutan pun terasa hangat oleh orang sana. Saya di jemput oleh bapak Chairul menuju rumah dan di sana sudah nampak bapak Usman yang menjadi ketua Jema'at di sana lalu saya pun di tinggal di rumah dan beristirahat.
Bersambung di lain Tema.....

Komentar
Posting Komentar