Bertugas di hempasan dinginnya alam
Pangalengan, sebuah nama yang tidak asing bagi para pecinta wisata camping atau Glamping di Jawa Barat, namun yang akan kami bahas bukan mengenai Pangalengan, melainkan sebuah kampung yang bernama Kebon 14.
Sebuah Cabang Jema'at Ahmadiyah yang jauh dari pusat keramaian yaitu kota Bandung tepatnya di Kebon 14, terletak masjid kecil yang muat untuk sekitar 70 sampai 80 orang.
Pertama kali ke tempat itu yang terbersit dalam pikiran adalah keindahan alam yang kaya akan sumber alamnya, diantaranya adanya sebuah Situ yang bernama Cileunca, lalu disekitaran sana banyak wisata Glamping (Glamour Camping) di samping situ Cileunca itu, banyak orang yang setiap weekend selalu menyempatkan diri bermain ke wisata yang menjadi primadona warga Bandung, namun tidak menutup kemungkinan bahwa warga di luar bandung pun banyak yang datang ke tempat ini. Masjid kita memang jauh dari situ Cileunca tapi setidaknya di titik yang sangat penting itulah hadir sebagai penstabil kerohanian dan dunia bersatu.
Suhu udara yang dingin dapat kita rasakan di sepanjang jalan menuju Pangalengan, biasanya musim panas kita akan merasakan udara 11⁰ (sebelas derajat) dan jika di musim penghujan akan menjadi 16⁰, mungkin banyak yang bertanya-tanya mengenai “mengapa udara dingin dapat dirasakan di musim panas bukan di musim penghujan?” namun itulah alam berkerja, kita tidak tau rahasia yang terkandung di dalamnya.
Warga yang ramah, lingkungan yang asri dan tempat bermain yang asyik tersaji dalam satu tempat, kebahagiaan, kesenangan dan kedermawanan warga sekitar maupun pendatang membuat kita betah akan berada di tempat seperti ini, kicauan burung yang masih dapat terdengar menandakan bahwa alam masih sehat dari polusi dan terkaman zaman, indahnya masih terbayang oleh para wisatawan yang datang ke sini. Masjid, Rumah dan Ladang waluh Siem menjadi pendukung kita dalam mendapatkan penghasilan untuk mengisi token masjid, untuk konsumsi pengajian, untuk hal-hal yang dirasa baik untuk kedepannya, ladang yang subur membuahkan hasil yang maximal dengan rata-rata mendapatkan beberapa kilo waluh Siem.
Seiring dengan waktu sebuah surat pun datang yang menandakan bahwa kami diminta untuk bertugas di sana, di tempat yang kemarin merupakan wisata dan kini tempat itu menjadi sebuah rumah dinas, rumah dinas di sini belumlah sempurna dan masih belum dapat di huni atau di tinggali disebabkan oleh kondisi rumah yang belum di pasang pintu, jendela, keramik, dan yang lainnya, sehingga ada sebuah kamar penjaga masjid yang ukurannya sangat sempit muat untuk satu keluarga tanpa ada lamari dan isinya dikarenakan sangat sempit hanya untuk beristirahat saja atau tidur, ruangan itu bersatu dengan dapur dan WC, dengan udara yang pengap sesak penuh dengan aroma masakan jika memasak membuat ruangan menjadi lembab.
Namun karena kami yakin bahwa suatu hari akan ada masanya kemajuan akan kita dapatkan dan kita rasakan, oleh karena itu kami berinisiatif untuk patungan dengan anggota kita untuk dapat membeli keramik, semen dan yang lainnya, sehingga dalam beberapa bulan rumah itu dengan kondisi keramik terpasang hanya di kamar pertama, kamar kedua dan WC saja, ruang tamu belum terpasang keramik dan jika sedang hujan maka langit-langit pun akan menjadi bocor. Rumah dinas yang tadinya kami rasa mungkin akan memberikan suasana nyaman namun dengan keterbatasannya masih tetap lembab, sehingga kita dapat melihat jamur yang di namakan blackmold.
Banyak kegiatan, banyak acara, banyak pertemuan, membuat kami merasa senang namun kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena hasil ladang waluh Siem kita masih tetap membuahkan hasil namun harga tidak kunjung membaik disebabkan oleh pemberian harga dipatok oleh si pembeli atau bandar sehingga kita yang mengetahui bahwa perawatan ladang waluh Siem ini tidaklah mudah dan membutuhkan perawatan yang extra bahkan setiap hari kita harus memetik daun yang sudah layu. Sekitar 5 bulan menempati tempat tugas, kami merencanakan untuk mengadakan gotong royong atau Wikari Amal, Wikari Amal adalah nama yang terbiasa terdengar oleh kita.
Disebabkan ladang kita hanya memberikan penghasilan yang tidak seimbang oleh karena itu kita berinisiatif untuk membongkar ladang waluh Siem itu menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat seperti kolam ikan yang dahulu pernah ada untuk menjamu para tamu yang datang ke tempat ini, maka kita bongkar ladang waluh tadi menjadi kolam ikan dengan diameter 3x5 untuk menampung ikan yang akan kita pelihara supaya besar dan menjadikan makanan untuk tamu yang datang ke sini, biaya operasional akan menjadi ringan dengan adanya hal ini, walaupun ladang kita sedikit tersisih karena kolam ikan kita.

Komentar
Posting Komentar