WEJANGAN pembukaan JAMIAH Jerman
Pidato & Wejangan
Hazrat Khalifatul Masih V ATBA
Bisyarat Edisi Khusus
Pidato & Wejangan
Hazrat Khalifatul Masih V atba
Penerjemah :
Abdul Karim Mun’im
( Abkari Munwana )
E-mail :
bisyaratkita@gmail.com
2015
Kata Pengantar
Agung Rachmatullah
Pemimpin Redaksi
ALHAMDULILLAH kami panjatkan puji syukur kami ke hadirat
Allah swt yang mana berkat Karunia-Nya Bisyarat – setelah cukup
lama berhibernasi – dapat kembali hadir dihadapan para pembaca.
Sedikit merubah tampilan dengan wajah baru, namun tetap kami
kobarkan semangat berkhidmat dalam menyampaikan kebaikan.
Bermula dari sebuah saran – yang akhirnya membuat kami tertantang
– Bisyarat edisi khusus ini menyajikan pidato yang disampaikan
oleh Hazrat Khalifatul Masih V atba pada saat pembukaan
Jamiah Ahmadiyah Jerman serta nasihat beliau atba pada saat penyerahan
ijazah “Syahid” Jamiah Ahmadiyah Inggris pada tahun
2012. Tidak lupa kami haturkan ucapan Jazakumullah kepada para
penerjemah yang telah memberikan sumbangsih yang sangat besar
untuk edisi kali ini.
Semoga buku kecil ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya
kami Mahasiswa Jamiah Ahmadiyah Indonesia supaya
dapat terus mendapat motivasi baik fisik maupun spiritual untuk
mengkhidmati Jemaat Ilahi ini. Amin.
Selamat membaca
Alhamdulillāh, angkatan
pertama Syāhid Alumni Jamiah Ahmadiyah Britania tengah bersiap-siap
ke medan tugas (lapangan). Setelahnya kalian mendapatkan ilmu di Jamiah Ahmadiyah
selama 7 (tujuh) tahun, sekarang perjalanan kalian untuk mendapatkan ilmu yang
akan kalian peroleh secara amaliah di dalam hidup kalian, akan dimulai.
Demikianlah, rampungnya studi kalian di Jamiah selama 7 (tujuh) tahun bukanlah
akhir pendidikan kalian, malahan itu merupakan permulaan studi kalian. Dengan
masuknya kalian di medan tugas sekarang-sekarang ini, kalian akan memulai
kehidupan kalian secara amaliah, dan kalian akan berusaha mendapatkan tambahan
ilmu. Untuk itu, supaya yang awal ini sampai ke tujuan akhir, seharusnya kalian
senantiasa mengingat doa yang Allah sendiri telah ajarkan kepada kita, yaitu :
رَبِّ زِذْنِيْ عِلْمًا
sekiranya kalian berdoa dengan berserah diri kepada
Allah serta merendahkan diri kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kalian
tambahan ilmu dan kecerdasan secara gemilang, akan memberikan tambahan kekuatan
kepada kalian, memberkati waktu-waktu kalian yang mana akan mempermudah kalian
memperoleh ilmu lebih banyak dan lebih banyak lagi. Maka senantiasa jadikanlah
tujuan ini di hadapan mata kalian sembari berserah diri kepada Allah Ta’ala
serta memohon pertolongan kepada-Nya.
Para mahasiswa Jamiah Ahmadiyah adalah orang-orang yang menyandang ilmu-ilmu
agama, oleh karena itu mereka belajar Al-Quran, Hadis, buku-buku Hadhrat Masih
Mau’ud A.s. serta mereka mendengarkan khutbah-khutbah saya juga. Dan sepanjang pengetahuan,
penyelidikan serta pengamatan saya terhadap mereka, sesungguhnya mereka menaruh
perhatian akan hal ini dengan segenap interes dan minat, dengan karunia Allah
Ta’ala. Kalian tahu bahwa tujuan utama dari hal ini semua adalah supaya kalian
mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan yang tiada taranya. Harapan saya, sebanyak
mungkin kalian berusaha dan terus menerus berusaha untuk itu dengan perantaraan
karunia dan pertolongan Allah Ta’ala, itu karena kerja keras kita selamanya
tidak akan dibarengi dengan keberhasilan selama kita belum menciptakan hubungan
yang tiada bandingannya dengan Allah Ta’ala. Kalian semua tahu bahwa shalat itu
merupakan sarana perantara atau wasilah untuk terkabulnya doa. Hadhrat Masih
Mau’ud A.s. sendiri bersabda, begitu pun Nabi kita Saw bersabda bahwa manakala
kesulitan menimpa beliau dan beliau menghadapi suatu perkara yang sulit, beliau
berdiri untuk shalat dan berdoa kepada Allah Ta’ala. Tidak diragukan lagi
bahwasanya kalian akan terbantu dengan doa yang intensif, Insyā’ Allāh,
tetapi kalian harus dawam mengerjakan shalat-shalat dan memperbanyak doa, baik di
dalam shalat-shalat fardhu maupun nafal. Kalian harus menaruh perhatian khusus
terhadap shalat-shalat nafal. Ketika kalian berdoa kepada Allah Ta’ala di dalam
shalat-shalat kalian untuk meminta tambahan ilmu, maka seharusnya kalian tidak
hanya bicara saja, tetapi berdoalah kepada Allah Ta’ala untuk itu dengan
segenap interes, perhatian dan ketetapan hati, berdiri di hadapan-Nya, tentu
Dia akan mengasah otak kalian dan menambahkan keluasan ilmu kepada kalian, Insyā
Allāh.
Adapun standar yang harus kalian capai di dalam shalat-shalat kalian, maka
kalian sudah sering kali membacanya dan
mengetahuinya dengan baik. Sebenarnya saya pribadi tahu, bahwa beberapa mahasiswa
berusaha untuk mencapai standar ini, tetapi seharusnya setelahnya kalian sampai
ke medan tugas, kalian lebih banyak mengerahkan segala kerja keras kalian untuk
itu. Kalian harus menjadikan di depan mata kalian standar itu dan teladan itu
yang Nabi Muhammad Saw wariskan untuk kita. Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud A.s.
bersabda : “Kalian laksanakanlah shalat yang Nabi Saw laksanakan !” Bagaimanakah
shalatnya Nabi Saw ? Hadhrat Aisyah r.a.
bersabda : “Jangan engkau bertanya mengenai sempurna dan panjangnya shalat
beliau Saw.”
Maka apabila kalian berusaha untuk melakukan shalat-shalat seperti ini
dan kalian menaruh perhatian terhadap shalat-shalat nafal juga, maka hubungan
dengan Allah Ta’ala akan tercipta untuk kalian dan ikatan dengan Allah Ta’ala
itu akan memberikan jaminan segala macam kesuksesan di medan tugas untuk
kalian. Maka kita seharusnya mengupayakan untuk menunaikan shalat-shalat tersebut,
yang Nabi Saw telah meninggalkan contohnya untuk kita, yaitu kita shalat di
hadapan Allah dalam keadaan menyerahkan diri, merendahkan diri dan fanā’
yang maksimal. Tanggung jawab-tanggung jawab yang berat di medan tugas akan
dibebankan di atas pundak kalian, oleh karenanya supaya kalian dapat
memikulnya, kalian harus memohon pertolongan Allah dan banyak-banyak
menyerahkan diri kepada-Nya dan meningkatkan hubungan dan kedekatan dengan-Nya,
supaya Allah Ta’ala menciptakan kemudahan untuk kalian di setiap langkah dan memberikan
petunjuk kepada kalian terhadap urusan kalian.
Bilamana kalian melaksanakan doa :
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
maka setiap
jalan-jalan hidayah yang dipandang penting untuk kalian dan juga untuk
orang-orang yang kalian menjadi perantara dalam hidayah mereka, tempatkanlah
dalam neraca [acuan]. Oleh karena itu keberangkatan kalian ke medan tugas serta
perbaikan diri kalian, bukanlah untuk kalian semata, akan tetapi teladan kalian
akan menjadi wasilah dalam hidayahnya orang-orang yang lain. Maka tempatkanlah
senantiasa hal ini di depan mata kalian. Carilah jalan-jalan yang diridhai
Allah Ta’ala. Tak ayal lagi, memang kita menjalankan doa :
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
akan
tetapi kalian jangan melupakan bahwasanya setan juga telah berkata kepada Allah
Ta’ala : “Aku pastinya akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang
lurus.” Oleh karenanya meniti jalan yang lurus bukan maksudnya kalian sudah
mendapatkan hidayah serta tidak akan pernah menghadapi berbagai rintangan setelah berjalan di jalan itu. Sekali-kali
bukan! Bahkan, perlu kalian ketahui bahwasanya setan itu menunggu-nunggu di
jalan lurus tersebut. Sesungguhnya setan duduk pada jalan itu untuk berbuat
kerusakan pada diri kalian. Sebagian orang setelah mendapatkan ilmu beranggapan
bahwa mereka telah meraih ilmu yang banyak dan menjadi orang-orang yang pakar
mengenainya, atau mereka telah menjadi orang yang mumpuni untuk memberikan
bantahan (klarifikasi) kepada yang lain. Segala pemikiran-pemikiran ini akan menghalang-halangi
kemajuan. Sesungguhnya opini-opini ini berasal dari bisikan setan. Oleh karena
itu jangan anggap diri kalian selamanya akan sempurna, dan jangan anggap
selamanya kalian mahir dalam ilmu. Kesempurnaan itu tidaklah berwujud pada
seorang pun, ya memang orang itu selalu melihat dan mencari-cari kesempurnaan.
Kesempurnaan itu hanya berada pada satu orang saja, dan itu adalah insan kamil
Saw, beliaulah teladan bagi kita, dan
tiada jalan lain bagi kita selain mengikuti jejak-jejak langkahnya. Sekiranya
kalian memperhatikan ketawadukan beliau Saw tentunya kalian akan mendapati beliau
telah mencapai puncaknya. Sekiranya kalian memperhatikan ibadah-ibadahnya,
tentu kalian akan mendapatinya mencapai puncaknya. Allah telah menurunkan
AlQuran kepada Rasul kita Saw, maka beliau Saw secara alami meraih ilmu dan
makrifat yang luar biasa, seiring itu Nabi Saw tidak mengatakan “Ikutilah saya!”,
akan tetapi Allah Ta’ala-lah yang berfirman :
“Ikutilah ia, Allah pasti akan
mencintai kalian”
Di hadapan kita ada teladan Nabi Saw, lalu teladan pecinta sejati Nabi
Saw pada zaman ini juga ada di hadapan kita. Sekiranya kalian merenungkan
hal-hal ini dan senantiasa mengerjakannya, maka kalian akan terus menempuh
jalan yang lurus, dengan izin Allah Ta’ala dan dengan selamat kalian akan
melewati segala macam rintangan yang diletakkan oleh setan pada jalan kalian.
Semoga Allah memberikan taufik untuk itu kepada kalian.
Hadhrat Masih Mau’ud A.s. bersabda dalam satu bait syairnya :
“Anggaplah diri kalian itu yang paling buruk di antara semua, supaya itu
akan menjadi motivasi supaya kalian masuk ke surga beserta Allah Ta’ala.”
Semestinya kalian senantiasa menjadikan tawaduk di hadapan mata kalian
untuk mendapatkan kedekatan Allah, kesuksesan meraih kecintaan Allah ‘Azza
wa Jalla. Jangan sekali-kali memiliki pemikiran, sebagaimana yang telah
saya katakan sebelumnya juga, karena sekarang pintu-pintu ilmu dan makrifat
telah dibukakan kepada kalian, oleh karena itu kalian bisa membuat semua orang
bungkam tidak berkutik. Tidak diragukan lagi, Allah Ta’ala telah berjanji
kepada Hadhrat Masih Mau’ud A.s. bahwa para pengikutnya akan senantiasa
mendapatkan kemajuan dalam ilmu dan pengetahuan dan dapat memberikan bantahan
kepada yang lain akan tetapi jangan kalian kira keadaan kalian tidak akan pernah
mengalami guncangan, sesungguhnya kita telah sampai kepada puncak di dalam segi
ini. Akan tetapi setiap kali Allah Ta’ala mengaruniakan keberhasilan dan
kesuksesan kepada kita di segala bidang, seharusnya kalian tunduk merendahkan
diri di hadapan Allah Ta’ala lebih banyak lagi daripada sebelumnya.
Ilmu yang hakiki akan melahirkan tawaduk dan perasaan dosa yang mendalam
pada manusia, dan tawaduk ini akan menambah ilmu dan makrifat. Kalian sekarang
akan pergi ke medan tugas dan kalian akan melihat bahwa para anggota Jemaat
akan sangat memuliakan para mubalig, oleh karena itu kalian akan mendapatkan
kehormatan ini dari mereka, akan tetapi seharusnya kalian selalu ingat bahwa
penghormatan ini karena berkat Hadhrat Masih Mau’ud A.s. dan sumbernya itu
adalah kecintaan yang para anggota Jemaat sembunyikan untuk Hadhrat Masih
Mau’ud A.s., dan kecintaan yang Hadhrat Masih Mau’ud A.s. ciptakan untuk Allah
Ta’ala dan untuk Nabi Saw; oleh karena itu tentu saja janganlah penghormatan
ini menyebabkan kalian berlaku takabur terhadap diri sendiri. Dan apabila kalian
disanjung satu langkah saja, maka kalian jangan mengalamatkan keistimewaan itu
itu pada diri kalian, malahan harusnya kalian tahu bahwa semuanya itu adalah
buah karunia dan nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kalian. Karena itulah kalian
harus berpegang teguh kepada simpul-simpul ketawadukan dalam hal ini, dan
camkanlah hal ini dengan baik. Jalinlah ikatan kesetiaan dan keikhlasan dengan
Khilafat Ahmadiyah. Di mana pun kalian berada dan di mana pun kalian
ditempatkan, kalian tidak akan bisa melaksanakan sempurnanya representasi,
selama kalian belum menjadikan karunia ridha Allah Ta’ala di hadapan mata
kalian dan selama kalian belum menjadikan setiap amal kalian sebagai wasilah
yang tulus murni untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala, dan selama kalian belum
menaruh perhatian dengan baik pada keadilan di setiap perbuatan kalian dan
memperhatikan dengan baik terhadap ketakwaan pada setiap perbuatan kalian.
Kalian telah mewakafkan diri kalian untuk memperoleh ilmu agama, dan ya, kalian
telah mendapatkan dasar-dasarnya setelah kalian belajar di Jamiah beberapa
tahun, akan tetapi mestinya perjalanan ini berkelanjutan dan membuahkan
kemajuan, karena tanggung jawab kalian bukan menempuh jalan takwa yang dangkal
dan biasa-biasa saja akan tetapi kalian harus menempuh jalan-jalan takwa yang paripurna.
Oleh karena itu setiap orang yang lulus dari Jamiah untuk berorientasi dan
bersiap-siap menjadi mubalig-mubalig, setiap orang yang tengah belajar di Jamiah
dan setiap mubalig yang bertugas di lapangan untuk menempuh jalan-jalan takwa
yang paripurna supaya dapat membimbing seluruh dunia. Ketahuilah bahwa teladan kalianlah
yang akan membimbing kalian ke arah al-sirāt al-mustaqīm [jalan
yang lurus].
Dari zona pelepasan ini, kalian harus memberikan contoh yang luhur. Dalam
hal ini ada ilham yang diterima oleh Hadhrat Masih Mau’ud A.s. dan saya akan
memberikan nasehat kepada para mahasiswa Jamiah yang berada di hadapan saya, baik
sekarang maupun yang akan datang, dan saya menyampaikannya berkali-kali di
dalam nasehat-nasehat saya secara umum juga, terjemahnya berikut ini :
“Allah dibuat takjub dengan jalan-jalan ketawadukan engkau”
oleh
karena itu kalian semestinya mencari jalan-jalan tawaduk ini. Semestinya dalam
diri kalian tidak timbul sifat mementingkan diri sendiri (egois) dan emosi
(dorongan) konfrontasi tanpa hak. Perlu diketahui, bahwa dahan-dahan yang berbuah
akan selalu merunduk [karena keberatan buah]. Oleh karena itu kalian juga harus
tunduk merendahkan diri lebih sering lagi setiap kali dibebani dengan
buah-buah. Setiap kali Allah menambahkan ilmu dan makrifat kepada kalian,
mestinya kalian lebih banyak menyerahkan diri kepada-Nya. Tawaduk ini akan
menjadi faktor pendorong untuk naiknya kalian dan akan menciptakan rasa manis yang
akan dirasakan oleh orang-orang pada setiap perbuatan kalian. Buah ini bukanlah
buah yang akan habis setelahnya dimakan, akan tetapi buah ini akan menyebabkan
segarnya jiwa, dan kesegaran jiwa akan membimbing orang-orang ingin mendapatkan
manfaat darinya. Sesungguhnya manisnya buah ini tidak sebatas rasa lezatnya
saja, akan tetapi akan menimbulkan kelezatan pada kalbu orang-orang dan membawa
serta mereka kepada Allah Ta’ala, oleh karena itu kalian harus senantiasa
mengingat itu. Saya biasa temu muka beramah tamah dengan para mahasiswa Jamiah
manakala saya ada di London, ketika setiap harinya ada tiga orang mahasiswa Jamiah
datang untuk berjumpa saya, maksud di balik pertemuan itu adalah untuk
menciptakan hubungan personal antara saya dengan mereka, saya memuliakan dan
membimbing mereka secara langsung. Memang benar, pertemuan ini terhenti untuk
beberapa kesempatan, akan tetapi pertemuan itu kembali sebagaimana mestinya
setelahnya masa yang sebentar saja. Sebab di balik pertemuan-pertemuan ini
bahwasanya salah seorang puteri Sayidina Muslih Mau’ud R.a. – ia adalah isteri
Tuan Mir Mahmud Ahmad – melihat di dalam ru’ya, sebuah pesawat terbang di udara
sedangkan ia tengah duduk di dalam pesawat bersama-sama dengan Sayidina Muslih
Mau’ud R.a.. Pesawat itu terus-menerus terbang di udara dan di bawahnya ada
bangunan Jamiah dan bangunan Jamiah itu juga terus bergerak seiring pesawat itu
di mana pun berada dan hampir-hampir tidak berhenti. Maksud dari ru’ya itu
adalah [pertama] : Jamiah-Jamiah ini akan tersebar ke seluruh dunia, yang
kedua : bahwasanya para lulusan Jamiah-Jamiah yang datang dari berbagai
Negara bergabung di Jamiah akan tersebar ke seluruh dunia dan mereka akan
memperoleh kehormatan dari Khalifah secara langsung; oleh karena itulah
mulailah silsilah pertemuan-pertemuan dengan para mahasiswa Jamiah dan itu
penting untuk menciptakan hubungan langsung antara saya dengan mereka sejauh
memungkinkan. Dan orang-orang yang lain juga merasakan hal ini; oleh karena itu
baru-baru ini mantan Principal Jamiah Kanada datang mengunjungi saya dan
mengatakan bahwasanya “Saya telah bertemu beramah tamah dengan para mahasiswa Jamiah
di Pakistan, Kanada dan juga bertemu
beramah tamah di Jamiah sini, di Britania, saya merasa bahwa para mahasiswa Jamiah
di Britania berbeda dengan yang lainnya, meskipun saya tidak dapat
menggambarkan letak perbedaannya lewat kata-kata akan tetapi saya menampak itu
dengan sangat jelas.”
Maka apabila hal itu demikian
adanya, maka demikianlah hal yang mendasari lengkapnya kegembiraan, saya
melihat bahwa maksud saya terpenuhi dengan pertemuan-pertemuan ini andai saja
kalian telah menguasai hal yang membuat kalian berbeda dengan yang lainnya. Harusnya
kalian tidak mempertahankannya saat di tengah-tengah keberadaan kalian di Jamiah
saja, akan tetapi seyogianya hal yang khas ini muncul lebih banyak lagi di
medan tugas. Manakala tanda ini muncul sebagaimana seharusnya, saat itu saja
kalian dapat menjalankan representasi Khalifah mengenai urusan yang
dipercayakan di wilayah tugas kalian. Di mana saja kalian berada, maka
sesungguhnya kalian merupakan representasi Khalifah di wilayah tugas kalian dan
kalian harus memperhatikan hal ini dengan baik. Dalam hal ini para mahasiswa
dari berbagai Negara telah belajar di Jamiah dan sebagian di antaranya lulus
dari Jamiah dan mereka masing-masing menyandang kedudukan :
"سُلْطَانٌ نَصِيْرٌ"
(Kekuatan yang menolong)
yang
Allah Ta’ala telah karuniakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud A.s. Para mahasiswa
ini tidak menghadapi kesulitan dalam hal berbahasa. Sebelum-sebelumnya kita
terpaksa berencana dan merencanakan, ke Negara manakah kita kirim
lulusan-lulusan Jamiah dan bahasa manakah yang akan kita ajarkan kepada mereka,
serta bagaimana kita mengajari mereka dan sampai tingkat berapa supaya mereka
meraih kesempurnaan dari sisi terjemah serta memungkinkan mereka menerjemahkan
buku-buku Jemaat dengan mudah dan ringan? Adapun sekarang Allah Ta’ala telah
memudahkan itu.
Di sini para mahasiswa dari Jerman, Belgia dan dari Perancis juga tengah
belajar, dan orang-orang Belgia memakai dua bahasa dan termasuk juga dari
antara para mahasiswa ada yang terampil mempergunakan kedua bahasa itu, dengan
karunia Allah Ta’ala. Makanya bahasa para mahasiswa ini baik dan seharusnya
mereka menjadikannya lebih baik lagi seiring zaman, sebagaimana sebagian mereka
mahir berbahasa Perancis, sebagian mahir berbahasa Jerman, Norwegia serta
bahasa-bahasa Negara Skandinavia lainnya, sebagian mahir berbahasa Belanda dan
Inggris juga. Sungguh Allah Ta’ala telah menyediakan semua sarana ini sehingga
kita bisa dengan segala kemudahannya menyampaikan risalah Islam kepada penduduk
negeri ini dengan menggunakan bahasa mereka. Tidak diragukan lagi bahwa risalah
itu akan sampai kepada mereka lebih dahulu melalui buku-buku dan selebaran-selebaran, akan
tetapi Allah Ta’ala menyediakan sarana-sarana supaya kita memperluas area ini
dan kita menjalankan pertabligan secara lisan juga. Ini merupakan langkah awal
dan perluasan itu akan sempurna dalam hal ini setiap kali para mahasiswa yang
lainnya datang di Jamiah lalu mereka lulus dan pergi ke tempat tugas.
Hadhrat Masih Mau’ud A.s. bersabda dalam satu bait syair urdunya, bahwasanya
kaum Liberal dari Eropa mulai memiliki ketertarikan kepada Islam, maka kita
seharusnya kewajiban kita adalah menyampaikan dakwah kebenaran dan risalah
Islam dengan memakai bahasa mereka. Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan
kepada kita terhadap urusan yang penting ini, ketika Dia mulai mengaruniakan
kepada kita – termasuk juga media-media baru pencetakan buku-buku,
selebaran-selebaran dan informasi – mubalig-mubalig juga yang berbicara
dengan bahasa mereka dan mereka menyampaikan risalah Islam dengan memakai
bahasa mereka, dan mereka memiliki kemampuan memperdalam tema-tema lalu
memberikan pemahaman kepada mereka dengan menggunakan bahasa mereka, maka ini
merupakan karunia besar Allah yang telah dianugerahkan kepada kita pada zaman
ini. Ini merupakan nubuatan yang diberitahukan oleh Hadhrat Masih Mau’ud A.s. bahwasanya
kaum Liberal dari Eropa akan memiliki kecenderungan kepada Islam, maka
seharusnya kalian memberikan pemahaman kepada mereka akan dakwah Islam. Urusan
yang merupakan tanggung jawab yang besar ini diletakkan di atas pundak kalian,
karena kaum Liberal ini ketika mereka mendengar tentang Islam, mereka
menampakkan reaksi separatis terhadap agama, dan ketika mereka jauh dari agama
mereka telah mengingkari wujud Allah Ta’ala juga karena mereka tidak
mendapatkan ketenangan dan ketentraman di dalam agama, serta mereka tidak
mendapati jalan-jalan itu memberi rasa aman dan tenang kepada mereka dan tidak
seorang pun yang membimbing mereka kepadanya. Sekarang kalian akan membimbing
orang-orang ini kepada jalan-jalan itu dan kepada wujud Allah Ta’ala lalu
terhadap pentingnya agama. Kemudian kalian memberitahu mereka ajaran-ajaran
Islam yang indah sehingga kita akan menghimpun mereka pada titik itu yang akan
membimbing mereka kepada Allah Ta’ala, yang untuk tujuan itulah Nabi Saw
diutus. Maka semestinya kalian senantiasa menaruh perhatian akan metode-metode baru
yang diambil di medan tablig, di dalam memperluas relasi dengan orang-orang dan
menyampaikan dakwah kebenaran kepada dunia.
Inilah keistimewaan-keistimewaan yang telah Allah Ta’ala anugerahkan
kepada kalian, dan siapa saja menampakkan keistimewaan-keistimewaan itu
sesungguhnya Allah telah memilih kalian pada zaman ini untuk menjadi
khadim-khadim Masih Mau’ud dan Imam Mahdi A.s.. Hari ini Allah Ta’ala telah
menganugerahi kalian – yang berdomisili di Eropa – untuk memburu burung-burung
putih dan menghimpun mereka di bawah panji Nabi Saw, dan supaya kalian bersama-sama
dengan mereka tunduk merendahkan diri di
hadapan Allah yang Maha Esa bekerja dengan segenap tuntutan-tuntutan keesaan
Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menganugerahkan karunia ini kepada para pemuda
yang tinggal di Eropa dan para anggota Jemaat yang lainnya yang mewakafkan
hidupnya untuk berkhidmat kepada agama, dan kepada orang-orang yang telah diwakafkan
oleh bapak-bapaknya dalam Program Waqf Nou untuk menjadi khadim-khadim agama,
lalu anak-anak ini memperbaharui perjanjian mereka ketika mereka dewasa, dengan
demikian mereka telah memenuhi janji-janji bapak mereka juga, dan mereka pergi
ke lapangan untuk berkhidmat. Maka resapilah anugerah ini dengan
sebenar-benarnya dan kerahkanlah segenap kemampuan kalian untuk menyempurnakan tujuan
ini, berusahalah sekuat tenaga sehingga penduduk negeri barat yang di dalamnya
banyak penyiaran paham atheis ini akan tunduk di hadapan Allah yang Maha Esa. Renungkanlah
bahwasanya kalian seharusnya mendawamkan berdoa untuk mewujudkan maksud ini,
dan mengerahkan segala kerja keras, kemampuan dan kualifikasi kalian untuk
meraihnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kalian untuk itu.
Inilah angkatan pertama Jamiah Ahmadiyah [Britania] yang pada hari ini lulus
dan akan menghadapi area medan tugas, kita berdoa kepada Allah Ta’ala agar
mubalig-mubalig ini menjadi teladan supaya jumlah orang-orang yang mengikuti
mereka dan berada pada jejak-jejak mereka menjadi banyak. Sebelumnya saya sudah
sampaikan kepada kalian – Wahai para mahasiswa Jamiah Ahmadiyah Britania – dikarenakan
kalian adalah perintis, demikianlah, selalunya yang awal-awal itu diikuti jejak
langkahnya di segala bidang, oleh karena itu kalian akan membangun teladan yang
luhur bagi para mahasiswa sesudah kalian, dan para mahasiswa yang datang
setelah kalian yakni yang sekarang sedang menempuh studi di berbagai tingkatan
akan melihat kalian. Oleh karena itu tanggung jawab yang berat terletak pada
pundak kalian dari berbagai aspek, maka seharusnya kalian menjadi teladan bagi rekan-rekan
yang sedang belajar di Jamiah Ahmadiyah dan para anggota Jemaat yang kalian
akan diutus kepada mereka, menjadi teladan untuk masyarakat dan dunia yang jauh
dari Allah, sehingga kalian akan membuatnya mendekat kepada-Nya.
Pidato Hadhrat
Khalifatul Masih V atba
Pada Pembukaan Jamiah Ahmadiyah di Jerman
Tanggal 17 Desember 2012
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ ... فأعوذ بِاللّٰهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢)
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)
Telah
hadir pada kesempatan ini, bergabung dengan para Mahasiswa Jamiah dan para
Muslim Ahmadi yang lainnya, para tamu yang terhormat dari elemen-elemen yang
lain, karena itu pertama-tama saya haturkan terima kasih atas penghormatannya
kepada kami dengan menghadiri perayaan yang kami adakan ini, yang mana dengan
kedatangan mereka semua, perayan ini menjadi tambah indah dan semarak. Mereka
mengatakan Jemaat Ahmadiyah adalah Organisasai yang cinta damai, yang
menampilkan contoh Islam hakiki. Sebagaimana mereka mendukung perlunya menjalin
hubungan kerjasama di antara para pengikut berbagai agama. Demikian juga mereka
pun mengatakan bahwa pemuda-pemuda yang terdidik dan terpelajar dari Negara
ini, sudah bergabung dengan Jamiah Ahmadiyah untuk belajar agama supaya mereka
dapat memberikan gambaran Islam yang murni ke hadapan penduduk Negara Ini, dan
mereka dapat memberikan pemahaman tentang ajaran-ajarannya yang sebenarnya, dan
akal mereka tidak berpegang kepada pemikiran-pemikiran yang salah tentang Islam
yang disebabkan tindakan-tindakan beberapa ekstrimis. Komentar-komentar para
tamu ini menandakan bahwa mereka menggantungkan harapan besar terhadap Jemaat
Ahmadiyah. Saya katakan kepada mereka bahwasanya mereka akan melihat, insya
Allah, Ahmadiyah itu adalah Islam yang hakiki yang mengajak kepada hidup
rukun penuh cinta, harmoni, persaudaraan sebagaimana Sejarah Jemaat kita dalam
kurun 124 tahun telah memberikan kesaksian, dan mereka, insya Allah Ta’ala,
akan melihat bahwa alumni Jamiah Ahmadiyah akan menampilkan gambaran Islam yang
hakiki kepada penduduk Negeri ini.
Di sini saya ingin tambahkan hal yang lain, yaitu kebanyakan di sini diungkapkan
bahwa para pelajar yang akan belajar di sini, mereka berasal dari Jerman saja, walaupun
para pelajar dari Negara Eropa lainnya juga akan belajar di sini, seperti
Belgia, Belanda, Perancis dan Negara lainnya, maka para pelajar di sini bukan
hanya dari Jerman saja. Di ‘Riedstadt, Hesse’ – Kota kecil ini, sebagaimana digambarkan
oleh yang mulia Tuan Walikota – sudah berdiri Jamiah Ahmadiyah untuk
mempelajari agama Islam setelahnya kota London. Akan tetapi para pelajar yang
belajar di Sekolah Agama ini bukan saja dari Jerman, bahkan para pelajar dari
berbagai Negara di Eropa datang sebagai duta untuk belajar agama. Dikehendaki dari Negara kecil ini akan memancar cahaya
ilmu supaya tersebar di seluruh Eropa. Negara-negara Uni Eropa sudah tergabung untuk
kerjasama karena faktor kondisi kehidupan dan gaya hidup, ekonomi dan politik,
akan tetapi Uni Eropa tidak mengarahkan perhatian pada [kerjasama] agama,
adapun Jemaat Ahmadiyah telah menciptakan di kota Riedstadt ini persatuan Eropa
supaya lahir dari Jerman ini guru-guru agama Islam Hakiki hingga ke berbagai
Negara Eropa, bahkan sampai ke luar Eropa juga untuk menampilkan gambaran Islam
Hakiki. Maka kota ini sudah barang tentu telah mendapatkan kemuliaan. Setelah
berbincang-bincang sebentar dengan para tamu, sekarang saya ingin menyampaikan
topik utama, untuk menyampaikan sesuatu sehubungan Pembukaan Jamiah pada hari
ini.
Merupakan kewajiban para mahasiswa Jamiah bahkan merupakan kewajiban semua
anggota Jemaat Ahmadiyah di Jerman bersyukur kepada Allah Ta’ala atas
taufik-Nya kepada mereka dengan didirikannya Jamiah Ahmadiyah di sini. Ini
merupakan rencana yang besar. Sesungguhnya Jemaat kita tidak memiliki kekayaan
minyak, tidak juga bersandar kepada kekayaan niaga. Jemaat kita yang kecil
hanya mengandalkan (mencukupi) dengan kekayaan anggota dan pengorbanan harta
benda mereka untuk biaya-biaya berbagai macam program pembangunan
masjid-masjid, pendirian pusat-pusat dakwah dan mengutus para mubalig ke
berbagai Negara serta mendirikan program-program dakwah dan tablig, menyebarkan
buku-buku dan selebaran-selebaran serta menyiapkan (mencetak) dosen-dosen dan mubalig-mubalig
di Jamiah-Jamiahnya. Sebagaimana saya katakan, ini merupakan rencana besar, dan
saya kira untuk penyelesaiannya memakan waktu dua tahun, akan tetapi Allah
Ta’ala telah memberi taufik kepada anggota-anggota Jemaat kita di Jerman untuk
merealisasikan rencana ini dengan segera, dan ya, mereka telah memberikan
fasilitas bagi para mahasiswa Jamiah pada hari ini sebuah bangunan yang indah
dengan dilengkapi segala sarana pra sarananya. Para mahasiswa Jamiah ini harus
bersyukur kepada Allah Ta’ala atas itu, dan sebagai bentuk syukur kepada Allah
Swt adalah fokus pada studinya dan berusaha untuk mencapai tujuan yang untuk itu
mereka bergabung dengan Jamiah ini, ingatlah, dan itu akan mereka amalkan untuk
menyelamatkan dunia dari kebinasaan, mereka akan menaruh rasa cinta dan simpati
untuk semua orang yang tidak ada taranya di dunia ini. Mereka harus memahami
tanggung jawabnya dan harus belajar untuk mewujudkan tujuan agung ini dan
berjanji pada diri mereka, setelahnya keluar akan menyebarluaskan ajaran-ajaran
indah ini dalam tampilan yang terbaik untuk menyempurnakan tujuan ini.
Bagaimana supaya bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran? Di sana
(Eropa) kemampuan keduniawian dan kemampuan politik selalu kita kerahkan ketika
kita menyampaikan pesan damai, pesan keselamatan, pesan cinta dan pesan kasih
sayang. Seperti halnya pakar dunia memperingatkan kepada orang-orang
kejadian-kejadian yang terkadang mengantarkan kepada peperangan, begitu juga
saya mengarahkan perhatian orang-orang kepada hal itu dalam berbagai
kesempatan, akan tetapi seorang mubalig yang lulus dari Jamiah Ahmadiyah akan
mengingatkan manusia kepada wujud Allah Ta’ala, dan menunaikan kewajiban
membawa mereka dekat kepada Allah Ta’ala. Ia harus menjadikan orang-orang
memahami untuk menegakkan kedamaian, keadilan, cinta dan harmoni di dunia,
tidak mungkin tanpa memahami bahwa Allah Ta’ala itu melihat segala apa yang
mereka lakukan dan mereka perbuat. Akan tetapi sebelum mereka mengerahkan
kemampuan itu untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman ini kepada orang-orang,
kewajiban kalian adalah menumbuhkan kesadaran ini di dalam diri kalian supaya
menjadi ahli dalam melaksanakan tanggung jawab ini. Tidak ada jalan lain bagi
kalian selain mengamalkan ajaran-ajaran ini lebih dulu serta kalian menciptakan
hubungan dengan Tuhan, pada saat itulah kalian benar-benar bisa menjadikan
orang-orang mengenal Allah Ta’ala dan kalian bisa membuat mereka mengenal
ajaran-ajaran dan hukum-hukum-Nya, bagaimana Allah benar-benar mencintai
makhluk-Nya dan sebagai buah cinta-Nya ini Dia telah mengutus para Nabi-Nya
pada tiap masa untuk memperbaiki umat manusia, dan terakhir Nabi kita Saw
diutus, maka ia telah menyempurnakan agama-Nya pada tangannya, dan sebagaimana
merupakan sunah alamiah, maka sesungguhnya pada beberapa waktu kerusakan
mencari jalan pada Agama, karena itulah pada masa ini telah diutus Hadhrat
Masih Mau’ud a.s. untuk memperbaharui agama [Islam] yang sempurna dan lengkap
ini untuk menyebarluaskannya di dunia dalam bentuknya yang asli serta indah
untuk kedua kalinya. Manakala kalian hendak memberitahu kepada orang-orang
mengenai hal ini, seharusnya kalian terlebih dahulu menyelidiki dan melihat keadaan
kalian, menyelidiki kualitas hubungan kalian dengan Allah Ta’ala, sejauh mana kalian
mengamalkan hukum-hukum Islam serta sejauh mana kalian mencintai makhluk Allah
Ta’ala. Apabila kalian menempatkan hal ini di hadapan mata kalian, maka
amal-amal dan kerja keras kalian akan terus diberkati, Insya Allah.
Allah Ta’ala telah menyebutkan di dalam AlQuran bahwa mereka yang ingin
belajar agama, mereka harus mendalami pemahamannya mengenai itu. Allah Ta’ala
memerintahkan supaya di sana diciptakan sekelompok orang mukmin untuk
mendalami pemahamam ilmu agama, dan kebanyakan para wāqif
(orang-orang wakaf) itu adalah dari antara kalian yang membaktikan hidupnya
untuk mengkhidmati agama, mereka termasuk orang-orang yang bapak-bapaknya
menazarkan mereka sebelum kelahirannya supaya mereka mempelajari ilmu agama,
kemudian kalian telah merelakan diri kalian untuk tujuan ini, di sana tidak ada
paksaan dan tidak ada tekanan, malahan kalian telah mempersembahkan diri kalian
secara sukarela untuk mengkhidmati agama. Selama kalian datang untuk mendalami
pemahaman agama, maka semestinya pada kalian itu terdapat kesadaran untuk itu. Allah
Ta’ala telah memberitahu kalian akan tujuan itu di balik [kata] : ‘tafaqqahū
fi al-dīn.’ Sesungguhnya maksudnya adalah memperingatkan orang-orang yang
di sekitar kalian, dan kalian akan membawa mereka kepada Allah Ta’ala, dan
memperteguh mereka tentang keberadaan Allah Ta’ala, sebagaimana saya katakan
tadi, dan kalian memperingatkan mereka tentang perlunya mereka akan agama, dan
menghindarkan mereka dari amal-amal buruk dan sesat. Maka sebagaimana Allah
Ta’ala telah terangkan di dalam Islam itu mementingkan hak-hak Allah Ta’ala,
maka oleh karena itu Dia juga telah menetapkan pentingnya hak-hak hamba.
Hadhrat Masih Mau’ud A.s. menerangkan bahwa di sana terdapat dua tujuan agung
yang terdapat pada keduanya, yang pertama : mendekatkan manusia kepada
Tuhannya dan yang kedua : memberikan pemahaman untuk menunaikan hak-hak
satu dan lainnya. Perkara yang lain merupakan cabang dari hak-hak hamba, yaitu
menyelesaikan segala macam pertentangan dan perselisihan. Penting sekali untuk
membersihkan paham-paham gambaran Islam yang buruk dari akarnya bahwa Islam itu
itu agama kekerasan, radikal dan ekstrim. Lalu perlu juga untuk memperbaiki
tindakan-tindakan kalian. Semestinya kalian memperbaiki tindakan-tindakan
kalian yang mana di mana pun hiduplah dalam cinta kasih dan harmoni
(keselarasan). Tidak diragukan lagi bahwa kalian adalah orang-orang yang
diberikan amanat supaya menjadi [رحماء
بينهم] – ruhamā’u bainahum
; menjadi orang-orang yang penuh kasih sayang di antara mereka – tetapi kita
telah diajarkan bahwa Muslim sejati itu adalah yang setiap orang Muslim itu
selamat dari tindakan merugikannya, bahkan seorang Muslim itu punya tanggung
jawab untuk melindungi yang lainnya juga.
Inilah pelajaran yang harus kalian ajarkan kepada dunia dan inilah
tujuan yang apabila kalian laksanakan akan membuat kalian mampu melaksanakan
sempurnanya mendalami pemahaman agama, karena itulah harus senantiasa kalian
ciptakan di hadapan mata. Selain itu ketahuilah, bahwa hak-hak para hamba
mengandung semua nilai-nilai akhlak. Seberapa bisa kalian menempuh cara-cara
itu, nilai-nilai itu akan nampak lebih banyak lagi, akan tetapi kalian harus
memahami penjelasan-penjelasannya dan mengamalkannya sesuai dengan itu. Dan
untuk membangun jiwa hakiki ini, Allah Ta’ala telah mengemukakan contoh kepada kita
di dalam AlQuran, maka Allah Ta’ala berfirman supaya kalian menjadikan Lebah
sebagai model dan mengamalkan apa yang lebah lakukan. Patut diketahui bahwa
lebah membuat rumahnya di tempat-tempat yang tinggi – meskipun lebah itu
dididik juga di tangan para ahli lebah yang mana mereka membuat sarang-sarang
lebah di dalam kotak-kotak di atas tanah, akan tetapi sejalan dengan itu
kotak-kotak itu dibuatkan di atas ketinggian beberapa benda lainnya
– dan membuatnya di atas gunung-gunung dan pohon-pohon, ringkasnya lebah itu
membuat sarang-sarangnya di atas tempat-tempat yang tinggi. Karena itu,
semestinya keinginan-keinginan kalian itu sangat tinggi dan harusnya standar
keilmuan kalian juga tinggi, tidak terbatas pada benda-benda bumi malahan
harusnya kalian terbang pada ketinggian langit, seharusnya tawakal kalian itu
kepada Allah Ta’ala bukan kepada orang-orang di bumi. Maka pelajaran yang harus
kalian pelajari dari lebah adalah kalian harus membuat rumah-rumah kalian di
tempat-tempat yang tinggi; rumah yang tinggi yaitu wujud Allah Ta’ala, maka
kalian harus berpegang teguh dengan Rumah yang tinggi itu, di samping itu maqam
apapun di dunia sekali-kali tidak akan merugikan kalian.
Allah Ta’ala berfirman bahwasanya lebah membuat madu dari anggurnya
buah-buahan yang beraneka rupa dan beberapa buah-buah itu akan dikemukakan juga
kepada kalian di sini. AlQuran adalah sumber segala kebaikan dan sumber semua
ajaran, dan sarana perantara untuk mengantarkan manusia kepada Allah Ta’ala, AlQuran
mengandung pelajaran terbaik untuk melaksanakan hak-hak manusia dan toleransi
beragama, di dalamnya ada pelajaran untuk mengayomi setiap agama dan
memuliakannya, dan kalian belajar AlQuran di sini, mempelajari Tafsirnya yang
telah diterangkan Nabi Saw di dalam Hadis-hadisnya, kalian juga mempelajari
mata kuliah Perbandingan Agama dengan maksud mengenal bermacam-macam agama,
kalian belajar ajaran Kristen, Yahudi, Budha dan agama-agama yang lainnya
supaya bisa membandingkan ajarannya dengan ajaran Islam, dan supaya kalian
memahami bagaimana menjawab apabila seseorang menyampaikan keberatan kepada
Islam. Ketimbang kalian menjelaskan kekurangan-kekurangan agama-agama yang
lain, mestinya kalian menerangkan keindahan-keindahan Islam dan inilah yang
dituntut dari kalian mempelajari secara mendalam.
Hal yang lainnya adalah, dalam dunia lebah terdapat berbagai jenis makanan
khusus yang disediakan untuk Ratu. Ini adalah pelakuan yang istimewa,
sebagaimana sebagian di antara kalian mengambil mata kuliah khusus setelah
keluar dari Jamiah ini. Makanan yang akan mereka produksi akan menyembuhkan
berbagai penyakit. Sekiranya kalian menempatkan permisalan ini sebagai neraca,
tentu kalian mendapatkan pelajaran besar darinya. Akan tetapi apakah pelajaran
yang bisa kita ambil dari lebah, setelahnya mendapatkan semua hal ini, Allah
Ta’ala berfirman mengenai itu
maksudnya
adalah bahwa lebah itu menempuh jalan-jalan Allah dengan tawadhu, dengan
merendahkan diri.[1] Kalau
demikian, setelahnya mendapatkan Ilmu AlQuran, Hadis serta agama-agama yang
lain, mestinya tidak ada sekecil apa pun ketakaburan dan kehormatan pada
seorang mubalig, bahkan ia akan memilih jalan-jalan merendahkan diri dan
menempuh jalan-jalan yang bermanfaat bagi manusia. Sesungguhnya lebah
menyediakan sarana-sarana penyembuh bagi manusia sebagaimana firman Allah
Ta’ala :
di
dalam madu itu terkandung obat bagi manusia, adapun kalian maka seharusnya
berusaha untuk mengobati jiwa sebagai buah dari ilmu kalian. Seyogianya dai-dai
kita menjadi motor penggerak untuk mengobati ruhani, karena itu kalian harus
senantiasa menempatkan hal ini sebagai neraca (acuan). Maka sekiranya kalian
menempatkan hal ini di hadapan kalian, kalian akan melihat dunia akan tertarik
oleh kalian secara otomatis, dan bagaimana kalian sukses meraih maksud kalian,
dan bagaimana dunia mengerti akan ajaran Islam yang indah. Maka sama saja, para
pelajar yang datang di sini untuk belajar, baik dari Jerman, Perancis maupun
Belgia, pada saatnya mereka lulus dari Jamiah adalah sebagai mubalig dan mereka
akan memberikan kabar gembira di negaranya dan seyogianya setiap mereka itu
masing-masing melakukan pengobatan jiwa, dan dengan demikian setiap kalian akan
menjadi media (sarana) untuk mengobati jiwa.
Berkenaan dengan ilmu yang
didapatkan, berkali-kali saya telah memberikan contoh-contoh bahwa para Mullah
ghair Ahmadi juga berusaha mendapatkan ilmu dan menjadi ulama besar yang mana
mereka menghafal berbagai sumber yang yang begitu panjang, bahkan mereka
menghafal semua Kitab Hadis serta keistimewaannya, terlebih lagi ayat-ayat
AlQuran, ketika mereka menyebutnya mereka menyebutkan nomor-nomor ayatnya juga,
akan tetapi dikarenakan mereka tiada mencari tarbiyat kepada tangan Imam Zaman,
maka mereka tidak bisa memahaminya dengan benar, sebagaimana ilmu ini
melahirkan ketakaburan pada mereka, maka ilmu ini tidak mengangkat mereka ke
langit bahkan menjadikan mereka cenderung kepada yang terdapat di bawah tanah,
selanjutnya sifat mementingkan diri sendiri (egoisme) mereka dan kehormatan
mereka yang palsu tidak mengangkat mereka kepada kedudukan ruhani yang
seharusnya didapatkan oleh seorang dai hakiki dan seorang alim agama. Maka
sekiranya kalian mendapatkan hal-hal ini berada di hadapan mata kalian, maka kalian
akan mengeluarkan banyak air mata.
Saya akan mengulangi dan mengatakan kepada kalian bahwa sekiranya kalian
mempersembahkan diri kalian untuk Jemaat Masih Mauud A.s., dan apabila kalian
ingin menjadi para penolong hakiki untuknya, maka berusahalah sekuat tenaga
untuk meningkatkan standar-standar ilmu kalian di dalam Jemaat ini dan meningkatkan
standar-standar akhlak juga, dan seharusnya kalian berhiaskan akhlak-akhlak dan
sifat-sifat yang seorang Insan yang sangat berakhlak berhiaskan dengan
akhlak-akhlak itu, dan itu supaya memungkinkan menampilkan ajaran-ajaran Islam
yang indah di Negara ini. Sesungguhnya kota ini sangat kecil yang mana jumlah
penduduknya tidak lebih dari 22.000 jiwa, dan hanya seorang atau dua orang
pelajar saja dari Negara Eropa yang turut bergabung di antara kalian, adapun sisanya
adalah orang-orang Asia. Memang benar kalian
dilahirkan dan tumbuh besar di lingkungan ini, akan tetapi wajah dan perawakan
kalian adalah perawakan Asia, maka timbulkan keinginan agar penduduk kota kecil ini tidak merasa khawatir
ketika mereka melihat kalian dan tidak
bertanya, “Dari mana 100 atau 150 pelajar datang di kota ini,” tentu kerap kali
kekhawatiran mereka yang menyebabkan mereka mengatakan : “Sesungguhnya mereka
adalah bentuk lain dari Taliban, dan terkadang mereka menjadi orang yang sangat
keras dan ekstrim, karena mereka berjenggot dan mengenakan sorban, dan
sesungguhnya pakaian mereka juga memberikan kesan yang aneh,” maka hal-hal
seperti ini menyebar di kota kecil ini seperti api di rumput kering. Tetapi manakala
kalian menampilkan contoh-contoh yang baik sebagai kebiasaan kalian di kota ini
dan memperlihatkan akhlak yang mulia, kalian menyebarluaskan salam damai ketika
berkunjung ke berbagai tempat dan pasar dan ketika berjalan di jalan, dan berjumpa
dengan orang-orang dengan akhlak luhur dan dengan wajah yang ramah, maka semua
kota ini akan menjadi mencintai kalian, sesungguhnya perilaku kalian ini akan
menjadi tanda kalian akan dikenali, dan akan menjadi perantara untuk menyiarkan
ajaran-ajaran Islam yang indah.
Ini merupakan tanggung jawab
besar, maka jangan kalian punya anggapan akan menjalankan kewajiban ini ketika
kalian keluar ke medan tugas setelah kalian belajar di Jamiah tujuh tahun. Sekali-kali tidak. Bahkan,
sesungguhnya keluarnya kalian ke medan tugas itu sekarang inilah dimulai.
Sesungguhnya 22.000 pendudduk kota ini, sekarang ini tengah melihat kalian
untuk membuktikan, apakah Jemaat Ahmadiyah itu melaksanakan apa yang
dikatakannya atau tidak, itu akan tergambar jelas dari cara berdiri dan cara
duduk kalian, cara bekerja dan cara berkata-kata serta berjalan kalian di kota
dan di pasar. Ketahuilah dari sekarang ini bahwa kalian telah menjadi mubalig
di kota ini, sama saja kalian yang duduk di kelas pertama, kedua atau pun kelas
lima, maka kalian telah menjadi duta-duta Islam pada kota Ini dan juga Negara
ini. Maka harus senantiasa mengingat hal-hal ini dan mengetahui tanggung jawab
kalian. Fokuslah kalian pada studi kalian, dan seharusnya dari kalian tidak
timbul sedikit pun tindakan mencemari nama baik Jemaat. Berdoalah kepada Allah
Ta’ala untuk melaksanakan hal-hal ini, dan semoga Allah Ta’ala menjadikan
kalian mubalig-mubalig hakiki untuk menyiarkan Nur Islam di sini. Amin.
Artinya
:
Tuhanmu mewahyukan kepada lebah
: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di
tempat-tempat yang dibuat oleh manusia, lalu makanlah dari tiap-tiap
buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu dengan merendahkan diri.” Dari perut
lebah itu ke luar minuman (madu) yang beraneka warna, di dalamnya terdapat obat
yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat Tanda bagi orang-orang yang berpikir. [QS an-Nahl,16:69-70].


Komentar
Posting Komentar