Khataman kenabiat tanpa syariat
Membawa syariat bukan satu-satunya fungsi para nabi.
Tugas Para
Rasul ‘alaihissalam
Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:
Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:
- Menyampaikan risalah Allah ta’ala dan wahyu-Nya.
- Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
- Memberikan kabar gembira dan memperingatkan manusia dari segala kejelekan.
- Memperbaiki jiwa dan mensucikannya.
- Meluruskan pemikiran dan aqidah yang menyimpang.
- Menegakkan hujjah atas manusia.
- Mengatur umat manusia untuk berkumpul dalam satu aqidah.
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran,
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (QS. Fathir:
24)
“Dan tidaklah Kami mengutus para Rasul itu, melainkan untuk
memberi kabar gembira dan memberi peringatan …” (QS. Al-An’am: 48)
Kenabian adalah suatu fungsi yang banyak warnanya seperti
pelangi. Deteriorasi progresif dari masyarakat islam kiranya cukup membuktikan
bahwa perbedaan dalam status ahlak mereka selama masa hidup Nabi Muhammad SAW di banding umat muslim masa kini
sudah tidak lagi bisa di bandingkan premis bahwa manusia telah cukup dewasa
untuk menarik konklusi sendiri dan menetapkan pola perilakunya dari asa-asa
ajaran suatu agama yang sempurna bisa di bantah dari berbagai sudut pandang. Semua
pemberontak demikian selalu menolak para Nabi zamannya karena merasa dirinya
jauh lebih baik dan utama.
Bukan hanya masalah kematangan intelektual manusia saja yang
di perlukan untuk menarik konklusi yang benar dari kitab-kitab suci, manusia
juga memerlukan bimbingan dan petunjuk Illahi. Bila ‘kematangan manusia’ di
artikan sebagai kemerdekaan dalam menarik konklusi berdasarkan telaah kitab
suci, mestinya terdapat keseragaman kesetujuan yang sempurna dalam semua
aspek-aspek fundamental ajaran keagamaan. Apa gunanya kematangan intelektual
manusia? Sejarah keagamaan menunjukan kalau manusia yang telah terpecah belah
dalam berbagai sekte dan skisma, tidak pernah bisa di satukan lagi hanya dengan
kekuatan manusia saja.
Hal yang sama juga berlaku pada umat muslim di zaman ini,
tanpa perantaraan sosok pembaharu Illahi ini dengan demikian menutup
satu-satunya jalan harapan yang terbuka bagi mereka harus di pahami sepenuhnya
bahwa logika di gunakan orang pada masa lalu dan juga masa depannya, mengapa
Nabi Isa as di utus Tuhan sebelum Nabi Muhammad SAW? Bukankah Al-Qur’an telah menetapkan
umat yahudi sebagai terkutuk karena dosa telah menolak dirinya? Dan apa yang
terjadi pada manusia sebelumnya? Bukankah mereka juga menolak para utusan
Illahi dengan cara mengolok-olok dan mencaci-maki mereka? Hal ini merupakan
refleksi menyedihkan dari ketakaburan manusia. Demikian pula pernyataan di
dalam Al-Qur’an : (yasin 36 : 31) Tidakkah
mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah
Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu
tiada kembali kepada mereka.
sumber : revelation
Komentar
Posting Komentar